Rabu, 18 November 2015

2 (dua) PILIHAN UNTUK INDONESIA


(Merdeka atau Mati? Dan Mewujudkan atau Mati?)
Oleh : Rizky Djauhari
MINGGU, 15 NOV 2015

“Membangun Paradigma Mahasiswa dengan Menghargai Jasa Pahlawan untuk Mewujudkan Cita-Cita Bangsa” adalah tema Dialog Terbuka yang dirangkaikan pada pelantikan pengurus komisariat Himpunan Pelajar Mahasiswa Paguat (HPMP) 13 November 2015 kemarin. Ada satu makna yang sangat berbeda pada tema dialog tersebut, yakni kata “menghargai”. Kata “menghargai” sangat berbeda dengan kata “memperingati” yang sering dilaksanakan dalam momentum-momentum atau hari yang bersejarah khususnya bangsa Indonesia. Menghargai jasa pahlawan merupakan wujud dan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia yang sampai saat ini menjadi penikmat kemerdekaan selain hanya sekedar memperingati hari tersebut. Anggaran HUT RI mencapai Rp. 11,3 T, sebagai wujud memperingati hari kemerdekaan RI. Dengan dana yang begitu besar, output-nya harus besar. Apakah outputnya esensi, aplikatif nasionalisme itu ada? Dengan melihat tingkat korupsi makin meningkat, Negeri parody yang tak tau arahnya kemana. Jadi, Menghargai atau Memperingati?
Merdeka atau Mati? 2 (dua) pilihan yang ada di medan perang. Pilihan yang selalu ada dipikiran para pejuang untuk mewujudkan kemerdekaan. Bertaruh nyawa merupakan satu pengorbanan yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Apakah mungkin pilihan itu akan melekat pada kita jika hari ini masih ada yang menjajah bangsa ini?, bangsa menjajah bangsa sendiri?, Generasi tua menjajah generasi muda?, Orang kaya menjajah orang miskin?, Orang pintar menjajah orang bodoh?. Bahkan jika hari ini akan terulang masa orde baru jilid 2 dengan kepemimpinan Presiden Jokowi Widodo yang kita kenal dengan orang social dan demokratis menjadi orang yang menganut system otoriter. Masih adakah munir dkk, Jilid 2 yang siap diculik, hilang tanpa berita yang akan menyuarakan Merdeka atau mati?
“jangan kau penjarakan ucapanmu jika kau menghamba pada ketakutan karena kita akan memperpanjang barisa perbudakan”, Ucapan Wiji Thukul (salah satu aktivis 1998 yang hilang). Tulisan ini berangkat dari pemikiran Wiji Thukul yang membuka pemikiran saya untuk tidak memenjarakan ucapan saya. Takut menyuarakan pada dialog tersebut tidak menghalangi saya untuk menyampaikan apa yang ada dipikiran saya, meski hanya melalui tulisan ini. Izinkan saya menanyakan kepada pemateri dialog untuk siap menyuarakan Merdeka atau Mati demi cita-cita bangsa? Sebagaimana yang dilontarkan Bung Tomo “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, Maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga” sebagai bentuk bangsa yang ingin merdeka.
Tugas pahlawan sudah usai, karena telah mengusir para penjajah. Tapi tugas sebagai penerus bangsa belum usai dan butuh waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan cita-cita bangsa sesuai yang tertera di UUD 1945. Untuk cita-cita bangsa, saya meminta kepada pemateri dialog: anggota DPD RI Prov. Gorontalo (bpk. Abdurahman Abubakar Bachmid, L.C), Ketua Umum HMI Cab. Gorontalo (Fauzan Azim), Ketua Umum KPMIP-G (diwakili sekretaris umum), Pengurus HPMP, seluruh rakyat gorontalo dan seluruh bangsa Indonesia (aristokrasi, mahasiswa dan rakyat) untuk siap berikrar demi CITA-CITA BANGSA dengan 2 (dua) pilihan : MEWUJUDKAN atau MATI?
Salam dari Indonesia yang telah “mengucapkan 2 (dua) pilihan MEWUJUDKAN atau MATI?“.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar