Oleh : Rizky Djauhari
MINGGU, 15 NOV 2015
“Membangun Paradigma Mahasiswa
dengan Menghargai Jasa Pahlawan untuk Mewujudkan Cita-Cita Bangsa” adalah
tema Dialog Terbuka yang dirangkaikan pada pelantikan pengurus komisariat
Himpunan Pelajar Mahasiswa Paguat (HPMP) 13 November 2015 kemarin. Ada satu
makna yang sangat berbeda pada tema dialog tersebut, yakni kata “menghargai”. Kata “menghargai” sangat berbeda dengan kata “memperingati” yang sering dilaksanakan dalam momentum-momentum
atau hari yang bersejarah khususnya bangsa Indonesia. Menghargai jasa pahlawan
merupakan wujud dan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia
yang sampai saat ini menjadi penikmat kemerdekaan selain hanya sekedar
memperingati hari tersebut. Anggaran HUT RI mencapai Rp. 11,3 T, sebagai wujud
memperingati hari kemerdekaan RI. Dengan dana yang begitu besar, output-nya
harus besar. Apakah outputnya esensi, aplikatif nasionalisme itu ada? Dengan
melihat tingkat korupsi makin meningkat, Negeri parody yang tak tau arahnya
kemana. Jadi, Menghargai atau Memperingati?
Merdeka
atau Mati? 2 (dua) pilihan yang ada di medan perang. Pilihan yang selalu ada
dipikiran para pejuang untuk mewujudkan kemerdekaan. Bertaruh nyawa merupakan
satu pengorbanan yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Apakah mungkin
pilihan itu akan melekat pada kita jika hari ini masih ada yang menjajah bangsa
ini?, bangsa menjajah bangsa sendiri?, Generasi tua menjajah generasi muda?,
Orang kaya menjajah orang miskin?, Orang pintar menjajah orang bodoh?. Bahkan
jika hari ini akan terulang masa orde baru jilid 2 dengan kepemimpinan Presiden
Jokowi Widodo yang kita kenal dengan orang social dan demokratis menjadi orang
yang menganut system otoriter. Masih adakah munir dkk, Jilid 2 yang siap
diculik, hilang tanpa berita yang akan menyuarakan Merdeka atau mati?
“jangan kau penjarakan ucapanmu
jika kau menghamba pada ketakutan karena kita akan memperpanjang barisa
perbudakan”, Ucapan Wiji Thukul (salah satu aktivis
1998 yang hilang). Tulisan ini berangkat dari pemikiran Wiji Thukul yang
membuka pemikiran saya untuk tidak memenjarakan ucapan saya. Takut menyuarakan
pada dialog tersebut tidak menghalangi saya untuk menyampaikan apa yang ada
dipikiran saya, meski hanya melalui tulisan ini. Izinkan saya menanyakan kepada
pemateri dialog untuk siap menyuarakan Merdeka atau Mati demi cita-cita bangsa?
Sebagaimana yang dilontarkan Bung Tomo “Selama
banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, Yang dapat membikin
secarik kain putih merah dan putih, Maka selama itu tidak akan kita mau
menyerah kepada siapapun juga” sebagai bentuk bangsa yang ingin merdeka.
Tugas
pahlawan sudah usai, karena telah mengusir para penjajah. Tapi tugas sebagai
penerus bangsa belum usai dan butuh waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan
cita-cita bangsa sesuai yang tertera di UUD 1945. Untuk cita-cita bangsa, saya
meminta kepada pemateri dialog: anggota DPD RI Prov. Gorontalo (bpk. Abdurahman
Abubakar Bachmid, L.C), Ketua Umum HMI Cab. Gorontalo (Fauzan Azim), Ketua Umum
KPMIP-G (diwakili sekretaris umum), Pengurus HPMP, seluruh rakyat gorontalo dan
seluruh bangsa Indonesia (aristokrasi, mahasiswa dan rakyat) untuk siap berikrar
demi CITA-CITA BANGSA dengan 2 (dua) pilihan : MEWUJUDKAN atau MATI?
Salam
dari Indonesia yang telah “mengucapkan 2 (dua) pilihan MEWUJUDKAN atau MATI?“.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar