Selasa, 28 Mei 2013
Rabu, 15 Mei 2013
Negeri ini butuh pemikir (cendekiawan) orde lama
![]() |
| by rizky djauhari |
Orde lama menjadi catatan sejarah yang
terpenting bagi saya untuk mencapai perubahan. Berbicara pentingnya sejarah,
tentunya kita ingat dengan slogan yang disampaikan Presiden pertama kita yang
berbunyi "Jas Merah" yang artinya "Jangan Sekali-kali
Melupakan Sejarah" Benarkah sejarah bisa diartikan suatu kejadian masa
lalu untuk dijadikan pelajaran masa sekarang dan masa yang akan datang? kali
ini sedikit membahas sejarah di jaman sang demonstran.
Siapa yang tidak kenal SOE HOK GIE seorang
anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin
mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. SOE HOK GIE lahir pada
17 Desember 1942. Ia adalah salah seorang putera dari keempat keluarga penulis
produktif Soe Lie Piet alias Salam sutrawan, Usia lima tahun adik Arif Budiman
ini masuk di bangku sekolah Sin Hwa School, sekolah khusus untuk keturunan
Tionghoa. Setelah lulus SD ia meneruskan ke SMP Strada, kemudian ke SMA
Kanisius, Jakarta lalu ke Universitas Indonesia Jurusan Sejarah, mahasiswa yang
berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Ia juga sebagai bagian dari
aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa
Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan
66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama dengan tulisan-tulisannya
yang tajam menggigit dan sering kali sinis itu membuat rasa kemanusiaan setiap
pembacanya seperti di robek-robek.
Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual
yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969, Gie
berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Uniknya ia tak pernah menjadi
anggota KAMI, organisasi yang menjadi lokomotif politik angkatan 66. Gie lebih
banyak berjuang lewat tulisan. Kritiknya pada Orde Lama dan Presiden Soekarno
digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media massa. Ketika
pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie tidak
lantas mau mendukung pemerintahan Orde Baru. Gie memilih menyepi ke
puncak-puncak gunung bersama teman-temannya.
Gie mencintai gunung dan alam bebas.
Puisi-puisinya banyak berkisah tentang kecintaannya terhadap pendakian gunung.
Di puncak gunung juga salah satu pendiri Mapala UI ini menghadap penciptanya.
16 Desember 1969, di tengah kabut tebal puncak Gunung Semeru, sehari sebelum
ulangtahun Gie ke-27, Gie dan Idhan Lubis meninggal karena menghirup gas
beracun. Teman-teman Gie yang ikut mendaki saat itu adalah : Anton Wiyana, A.
Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides
Katoppo.
Gie dalam bukunya Catatan Seorang
Demonstran, sebuah buku tentang pergolakan pemikiran seorang pemuda,
Soe Hok Gie. Dengan detail menunjukkan luasnya minat Gie, mulai dari persoalan
sosial politik Indonesia modern, hingga masalah kecil hubungan manusia dengan
hewan peliharaan. Gie adalah seorang anak muda yang dengan setia mencatat
perbincangan terbuka dengan dirinya sendiri, membawa kita pada berbagai
kontradiksi dalam dirinya, dengan kekuatan bahasa yang mirip dengan saat
membaca karya sastra Mochtar Lubis.
Dia banyak menulis kritik yang keras di media
massa seperti koran, bahkan kadang dengan menyebut personal (tidak menyamarkan
nama). Dia pernah mendapat surat kaleng yang memaki-maki dia “Cina yang
tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Gie bukanlah
stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah
pecinta kalangan yang terkalahkan dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi
pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.
Apa yang ditulisnya (baik atau tidak, benar
atau salah) adalah apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan oleh seorang pemuda,
seorang terpelajar yang mencoba bertindak adil dalam pemikiran maupun
perbuatan. Jika ingin memperoleh pengetahuan, gambaran, kesan-kesan mengenai
kehidupan para pemuda atau para mahasiswa Indonesia, catatan Soe Hok Gie
merupakan perwujudan kenyataan dari kehidupan sebagian dari mereka. Gie adalah
sebuah potret pemuda Indonesia pada sebuah masa yang berani mengambil sikap.
Kecaman yang dilontarkan Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur, atas dasar
itikad baik. Ia tidak selalu benar, tapi selalu jujur.Terlepas dari sisi
kontroversialnya yang terlalu banyak mengkritik, tapi enggan untuk bergabung
dalam sistem, ada hal yang patut diapresiasi dan diperjuangkan di masa kini dan
nanti. Agar apa yang diperjuangkannya dahulu, tidak sia-sia.
Berbahagialah generasi kini yang dapat menimba
hikmah dari berbagai bentuk peninggalan maupun penerbitan bahan sejarah di
dalam negeri!
John Maxwell, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Beranjak dari biografi Soe Hok Gie menjadi
satu pikiran saya bahwa di era reformasi yang penuh carut marut ini kita masih
butuh system yang dilakukan iya pada zamanya, karena Sampai kapanpun, sampai
reformasi jenis apapun, sampai revolusi sekuat apapun, kesetaraan Sejahtera nya
rakyat hanyalah harapan kosong. Memimpin bangsa Lebih utama sebenarnya
adalah perubahan mentalitas, akumulasi misi hidup dan pembiasaan, memimpin perubahan
bukan hanya mensyaratkan adanya perubahan struktur, momentum dan sejumlah
orang, melainkan kultur perubahan (mengubah cara-cara kita melakukan
sesuatu di sekitar kita) kondisi yang berubah. Tapi kenyataan yang
ada, orangnya berubah dengan kondisi yang sama bahkan ada juga yang
menurun: bahasanya ”pergantian pemain dalam formasi yang sama”. Tugas pokok
pemimpin adalah mengubah peraturan, karena hal itulah yang berfungsi sebagai
rumah kerja dan cita-cita yang kondusif untuk bisa terus belajar dan tumbuh,
kemudian menyebarkan inovasi dan contoh-contoh pelayanan terbaik di dalam
organisasi dan kepada masyarakat.
Manifes berkedok sosialis yang terus di
kumandangkan, dan terus-terusan kosong. Tiada. Karena sifat dasar
manusia memang kompetitif, dan manusia di besarkan dalam irama seperti itu
Sampai kapanpun, akan tetap ada kelas-kelas, miskin-kaya, tinggi-rendah,
borjuis dan seterusnya, dan seterusnya. Logis bagi saya semua itu. Dan lagi
sejarah berkata sama. Aku tidak berjuang untuk Penyetaraan Kesejahteraan, saya
hanya ingin berjuang untuk; “Level of living” kata Soe
Hok Gie. Tingkat hidup rakyat, setidaknya tidak lebih rendah
dari negara samping. saya tidak permasalahkan dengan apa yang di sebut kaya,
dan apa yang disebut miskin. saya hanya permasalahkan atas pandangan sinis
& rendahan yg terlukis.Bagi saya bukan kaya atau miskin yang membuatnya
buruk, Melainkan anggapan dan cara pandang, itu yang harus diubah. Karena
dengan begitu, harmony akan kembali. Level of living biarlah
meningkat. Tidak ada lagi (atau setidaknya berkurang) tempah sampah menjadi
wadah makanan. Pendidikan yg layak (dalam arti memang bermutu) untuk mereka
adik kecil. Tidak ada lagi pandang merendahkan, pada mereka yang bekerja tanpa
jas & sepatu mahal, tukang parkir, tukang bakso, dan seterusnya. Si kaya
dan si miskin tetap ada. Tapi minimal memiliki pandangan mereka berbeda.
Catatan kecil saya ini bersifat pesan bagi
kaum muda : ketika kamu melihat adanya ketidakjujuran mulai
berjangkit dimanapun dan kapanpun, sudah selayaknya kaum muda untuk melakukan
pergerakkan yang dilandasi hati nurani dan dengan mengembangkan gerakan atas
cinta, komitmen, dan konsistensi untuk merubahnya menjadi lebih baik. Ingat
alamnya di jaga, percuma system berhasil tapi kondisi lingkungnnya rusakya parah,
dan membawa Indonesia ke keadaan bangsa yang lebih sejahtera dan beradab.
Selasa, 14 Mei 2013
Sabtu, 11 Mei 2013
Pemimpin dan Bahasa Perubahan
Alumnus Leadership for Social Justice, Birmingham, Inggris
Negeri ini makin membutuhkan pemimpin untuk perubahan. Harapan ini kembali muncul di hati saya dalam perjalanan dari Jakarta menuju Hong Kong dan Amsterdam, dengan Cathay Pacific, beberapa waktu lalu. Setelah sekian bulan di tanah air, saya sempatkan berusaha menangkap banyak harapan atas beragam situasi. Kesimpulan sementara saya adalah bahwa perubahan untuk kemajuan di negeri ini meniscayakan suatu “bahasa perubahan”.
Untuk bisa lebih baik, tampaknya bahasa keseharian kita dan bahasa harapan kita, haruslah berubah. Dalam ungkapan Melayu lama, jelas diungkapkan bahwa ‘bahasa menunjukkan bangsa’. Artinya, tata-bahasa kita berhubungan langsung dengan tata-laku kita. Lalu, siapakah yang mestinya pertama kali harus menunjukkan bahasa perubahan itu? Untuk apa bahasa perubahan itu, dan bagaimana perubahan bahasa itu sendiri bisa dibentuk untuk kepentingan perubahan dan perbaikan?
Catatan ini bermaksud sekadar menyegarkan sebuah pandangan lama. Beberapa waktu lalu saya menulis bahwa memimpin perubahan bukan hanya mensyaratkan adanya perubahan struktur, momentum dan sejumlah orang, tapi yang tak kalah seriusnya adalah kultur perubahan, yaitu mengubah cara-cara kita melakukan sesuatu di sekitar kita! Kita patut khawatir jika kelak yang terjadi adalah “hanya pemain yang berganti tapi permainan sama saja”.
Tantangannya adalah karena kita membutuhkan orang-orang yang berubah sekaligus kondisi yang berubah. Meski yang lebih utama sebenarnya adalah perubahan mentalitas, akumulasi misi hidup dan pembiasaan. Dalam faktanya, yang kerap terjadi adalah mempekerjakan orang yang mau atau yang sudah berubah tapi pada lingkungan yang belum atau tidak (mau) berubah. Mengubah setting adalah tugas pokok pemimpin karena hal itulah yang berfungsi sebagai rumah kerja dan cita-cita yang kondusif untuk bisa terus belajar dan tumbuh, kemudian menyebarkan inovasi dan contoh-contoh pelayanan terbaik di dalam organisasi dan kepada masyarakat.
Pada tahap ini, kompleksitas mulai mengemuka karena menyangkut: interaksi setiap orang dan kepentingan kelompok, status dan materi; dan itu semua akan menghasilkan hirup-pikuk, bahklan klik-klik kelompok dan kepentingan jangka pendek. Karena itu, tabiat pertama dari pemimpin perubahan adalah kapasitas dia dalam berinteraksi (lintas-batas kelompok), karena dari sanalah dia menyerap ”ide” dan ”kasus” lalu memberi respons dan pembiasaan produktif dari dirinya, bukan dengan bahasa janji, gertakan kuasa dan apalagi transaksi ekonomi.
Kebutuhan utama bagi setiap pemimpin perubahan adalah mengukuhkan dasar-dasar moral dan inteleksinya untuk mengelola semua kondisi yang ada. Harapannya, kemenangan dia bukanlah semata sebuah kemenangan jangka pendek, tapi kemenangan atas agenda besar dan keteladanan otentik. Bukan sekadar status tanpa isi, tapi karena visi dan aksi. Kemampuan mengalokasikan waktu yang memadai dalam beradaptasi dan mengelola berbagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berat, tekanan dan ketidakpastian adalah karakter utama pemimpin yang bisa menavigasi arus-arus perubahan (Heifetz & Laurie, HBR, 1998: 181).
Kita butuh (banyak) pemimpin di negeri ini, yang menyebar, yang mengambil peran-peran terobosan dan berani menghadapi dan mengelola kenyataan (kesempatan, masalah, sumberdaya, dst), tapi sekaligus yang terbuka memproses berbagai alternatif terbaik di daerah dan di masing-masing lingkungan kerja yang dipimpinnya. Prinsip kerja ini harus dipegang dan dihayati, sekaligus harus di-evaluasi berkala dan objektif, bukan sekadar basa-basi dan formalitas.
Pemimpin harus mampu meng-aktifkan, membangun dan menguatkan proses pengerjaan perubahan sebagai prioritas, sehingga sebuah organisasi benar-benar menghayati tugas-tugas luhurnya dalam melayani. Proses inilah yang tanpa henti harus diberdayakan, bukan malah dikontrol dan dikhawatirkan dengan penuh kamuflase.
Pemimpin perubahan akan meramu semua bahasa harapan dan optimisme menjadi energi kolektif untuk mencapai sesuatu untuk kepentingan bersama yang berguna jangka panjang. Ia tak pernah takut, menyerah dan menyalahkan, karena ia amat yakin bahwa masalah yang sangat sulit pun pasti bisa dikelola produktif. Ketidakseimbangan dan tensi-tensi tantangan memang selalu hadir di berbagai titik, tapi arah perubahan akan terus dikelola dengan ”tenang” karena di sanalah pencapaian terbaik berada. Di sanalah kapasitas untuk berubah dan membuat perubahan bisa dicapai. Ia harus mampu membentuk bahasa pikiran dan kebijakan yang konsisten dengan tindakan.
Singkatnya, leadership yang kita butuhkan adalah yang kompeten untuk implementasi. Mereka yang berani, lincah dan cermat “mendobrak” dan menggerakkan strategi kerja secara konsisten selalu lebih baik daripada mereka-mereka yang bermental pengikut atau pembeo, pembela status quo, yang serba menyesuaikan, yang mendewakan status dan kemapanan, dan yang selalu merayakan bahasa negatif, bahasa hitam-putih dan bahasa menang-kalah. Setiap terobosan untuk perubahan memang (selalu) membutuhkan mentalitas yang kuat, sebuah persistensi akan sesuatu yang berjangka panjang. ***
Rabu, 01 Mei 2013
PROBLEMA GENERASI MENDATANG
PROBLEMA
GENERASI MENDATANG
Dengan survei yang ada
banyak temuan akademis yang membuktikan bahwa dimensi keilmuan dan keterampilan
sudah semakin lemah dalam membentuk dan membangun manusia seutuhnya. Setelah
apa yang kita lakukan dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan pendidikan, hanya
bisa menjadi hiasan bagi kehidupan sedangkan generasi sekarang dan akan datang
semakin memperoleh tantangan dalam kehidupan. Lemahnya dunia kerja di Indonesia
berdasarkan laporan WEF (world economic forum) dalam doing business economic rangkings, peringkat daya saing global,
Indonesia untuk periode 2012-2013 berada pada posisi 50 dengan skor 4,4 dari
144 negara.
Sekitar sepuluh tahun
terakhir kita di lahirkan dengan adanya berbagai media massa
serta booming teknologi yang
begitu hebat, lantas siapa yang akan mengelolah perkembangan zaman modern kalau
bukan kita sebagai generasi di era informasi ini? Sedangkan kemampuan teknologi
seperti dalam bidang computer yang dibutuhkan oleh pasar kerja di Negara maju
bisa mencapai nilai sekitar 4,20 dengan klasifikasi keterampilan psikomotorik.
Bagaimana dengan generasi saat ini?
Cukup atau tidak,
dengan adanya jata pendidikan formal di awali dari sekolah dasar hingga
perguruan tinggi dapat menguasai ilmu pengetahuan, technology dan keterampilan
teknis yang berhubungan dengan ilmunya bisa menghasilkan karakter manusia yang
seutuhnya. Hal ini bisa menjadi pegangan hidup seseorang untuk terjun di dunia
kerja, terus bagaimana dengan yang mengalami persoalan kompleks berupa malas,
kurang inisiatif, kurang percaya diri, kurang pergaulan bila bersamaan dengan
kawannya yang hidup dan berkembang pada dunia maju?
Dari jalur birokrasi
sampai dalam kehidupan sehari-hari untuk kecintaan keluarga pada dunia kerja
yang nampak adalah nepotisme, dengan berpikir subjektif bisa menciptakan
kurangnya pemerataan kesempatan kerja sehingga kehilangan kondisi
objektivitasnya seperti kemampuan dalam bidang kerja tidak menjadi persoalan,
ahli atau tidak, profesinya atau tidak, di paksakan untuk masuk dalam rana kerja
yang penting masih ada hubungan keturunan. Kecintaan pada keluarga hal yang
wajar, tapi yang akan lahir nepotisme. Sehingga ini bukan saja tidak mendidik
akan tetapi bisa menimbulkan masalah dan tidak lagi berprinsip bahwa orang
harus di tempatkan sesuai kemampuannya?
Manusia bisa di katakan
makhluk individual, makhluk sosial dan
makhluk spiritual bila mengaplikasikan akal pikiran dan kemampuan
berinteraksinya dengan mengembangkan kemampuan tertingginya sebagai
makhluk ciptaan tuhan dan manusia juga memiliki organ khusus untuk logika dan
imajinasi yaitu brain (otak) dengan jutaan kapasitas agar di manfaatkan dengan
baik yang di perkirakan hampir semua orang kapasitas otaknya menganggur sekitar
99% hitungan orang berpengetahuan tinggi. Pakar fisika Albert Enstein “tidak semua bisa dihitung dapat
diperhitungkan dan juga tidak semua bisa diperhitungkan dapat dihitung”.
Ini menjadi bahan pertimbangan kita seorang fisikawan saja menyatakan bahwa
kemampuannya untuk berhitung masih
terbatas pada zamannya albert enstein. Bagaimana pada zaman kita sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan
diatas inilah yang menjadi problema generasi mendatang dan masih
banyak lagi problema yang belum terungkap yang kita tidak sadari dan tentunya
juga yang sering menjadi belenggu bagi mereka yang belum menyadari betapa pentingnya Interpersonal Skills keterampilan dalam
berhubungan dengan orang lain dan Intra-personal
Skills keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri yang mampu mengembangkan produktifitas kerja
secara mksimal.***
Langganan:
Postingan (Atom)

