Rabu, 15 Mei 2013

Negeri ini butuh pemikir (cendekiawan) orde lama

walker
by rizky djauhari
Orde lama menjadi catatan sejarah yang terpenting bagi saya untuk mencapai perubahan. Berbicara pentingnya sejarah, tentunya kita ingat dengan slogan yang disampaikan Presiden pertama kita yang berbunyi "Jas Merah" yang artinya "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah" Benarkah sejarah bisa diartikan suatu kejadian masa lalu untuk dijadikan pelajaran masa sekarang dan masa yang akan datang? kali ini sedikit membahas sejarah di jaman sang demonstran.
Siapa yang tidak kenal SOE HOK GIE seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. SOE HOK GIE lahir pada 17 Desember 1942. Ia adalah salah seorang putera dari keempat keluarga penulis produktif Soe Lie Piet alias Salam sutrawan, Usia lima tahun adik Arif Budiman ini masuk di bangku sekolah Sin Hwa School, sekolah khusus untuk keturunan Tionghoa. Setelah lulus SD ia meneruskan ke SMP Strada, kemudian ke SMA Kanisius, Jakarta lalu ke Universitas Indonesia Jurusan Sejarah, mahasiswa yang berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Ia juga sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama dengan tulisan-tulisannya yang tajam menggigit dan sering kali sinis itu membuat rasa kemanusiaan setiap pembacanya seperti di robek-robek.
Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969, Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Uniknya ia tak pernah menjadi anggota KAMI, organisasi yang menjadi lokomotif politik angkatan 66. Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan. Kritiknya pada Orde Lama dan Presiden Soekarno digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media massa. Ketika pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie tidak lantas mau mendukung pemerintahan Orde Baru. Gie memilih menyepi ke puncak-puncak gunung bersama teman-temannya.
Gie mencintai gunung dan alam bebas. Puisi-puisinya banyak berkisah tentang kecintaannya terhadap pendakian gunung. Di puncak gunung juga salah satu pendiri Mapala UI ini menghadap penciptanya. 16 Desember 1969, di tengah kabut tebal puncak Gunung Semeru, sehari sebelum ulangtahun Gie ke-27, Gie dan Idhan Lubis meninggal  karena menghirup gas beracun. Teman-teman Gie yang ikut mendaki saat itu adalah : Anton Wiyana, A. Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo.
 Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran, sebuah buku tentang pergolakan pemikiran seorang pemuda, Soe Hok Gie. Dengan detail menunjukkan luasnya minat Gie, mulai dari persoalan sosial politik Indonesia modern, hingga masalah kecil hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Gie adalah seorang anak muda yang dengan setia mencatat perbincangan terbuka dengan dirinya sendiri, membawa kita pada berbagai kontradiksi dalam dirinya, dengan kekuatan bahasa yang mirip dengan saat membaca karya sastra Mochtar Lubis.
Dia banyak menulis kritik yang keras di media massa seperti koran, bahkan kadang dengan menyebut personal (tidak menyamarkan nama). Dia pernah mendapat surat kaleng yang memaki-maki dia “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.
Apa yang ditulisnya (baik atau tidak, benar atau salah) adalah apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan oleh seorang pemuda, seorang terpelajar yang mencoba bertindak adil dalam pemikiran maupun perbuatan. Jika ingin memperoleh pengetahuan, gambaran, kesan-kesan mengenai kehidupan para pemuda atau para mahasiswa Indonesia, catatan Soe Hok Gie merupakan perwujudan kenyataan dari kehidupan sebagian dari mereka. Gie adalah sebuah potret pemuda Indonesia pada sebuah masa yang berani mengambil sikap. Kecaman yang dilontarkan Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur, atas dasar itikad baik. Ia tidak selalu benar, tapi selalu jujur.Terlepas dari sisi kontroversialnya yang terlalu banyak mengkritik, tapi enggan untuk bergabung dalam sistem, ada hal yang patut diapresiasi dan diperjuangkan di masa kini dan nanti. Agar apa yang diperjuangkannya dahulu, tidak sia-sia.
Berbahagialah generasi kini yang dapat menimba hikmah dari berbagai bentuk peninggalan maupun penerbitan bahan sejarah di dalam negeri!

John Maxwell, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Beranjak dari biografi Soe Hok Gie menjadi satu pikiran saya bahwa di era reformasi yang penuh carut marut ini kita masih butuh system yang dilakukan iya pada zamanya, karena Sampai kapanpun, sampai reformasi jenis apapun, sampai revolusi sekuat apapun, kesetaraan Sejahtera nya rakyat hanyalah harapan kosong. Memimpin bangsa Lebih utama sebenarnya adalah perubahan mentalitas, akumulasi misi hidup dan pembiasaan, memimpin perubahan bukan hanya mensyaratkan adanya perubahan struktur, momentum dan sejumlah orang, melainkan kultur perubahan (mengubah cara-cara kita melakukan sesuatu di sekitar kita) kondisi yang berubah. Tapi kenyataan yang ada,  orangnya berubah dengan kondisi yang sama bahkan ada juga yang menurun: bahasanya ”pergantian pemain dalam formasi yang sama”. Tugas pokok pemimpin adalah mengubah peraturan, karena hal itulah yang berfungsi sebagai rumah kerja dan cita-cita yang kondusif untuk bisa terus belajar dan tumbuh, kemudian menyebarkan inovasi dan contoh-contoh pelayanan terbaik di dalam organisasi dan kepada masyarakat. 
Manifes berkedok sosialis yang terus di kumandangkan, dan terus-terusan kosong. Tiada. Karena sifat dasar manusia memang kompetitif, dan manusia di besarkan dalam irama seperti itu Sampai kapanpun, akan tetap ada kelas-kelas, miskin-kaya, tinggi-rendah, borjuis dan seterusnya, dan seterusnya. Logis bagi saya semua itu. Dan lagi sejarah berkata sama. Aku tidak berjuang untuk Penyetaraan Kesejahteraan, saya hanya ingin berjuang untuk; “Level of living” kata Soe Hok Gie. Tingkat hidup rakyat, setidaknya tidak lebih rendah dari negara samping. saya tidak permasalahkan dengan apa yang di sebut kaya, dan apa yang disebut miskin. saya hanya permasalahkan atas pandangan sinis & rendahan yg terlukis.Bagi saya bukan kaya atau miskin yang membuatnya buruk, Melainkan anggapan dan cara pandang, itu yang harus diubah. Karena dengan begitu, harmony akan kembali. Level of living biarlah meningkat. Tidak ada lagi (atau setidaknya berkurang) tempah sampah menjadi wadah makanan. Pendidikan yg layak (dalam arti memang bermutu) untuk mereka adik kecil. Tidak ada lagi pandang merendahkan, pada mereka yang bekerja tanpa jas & sepatu mahal, tukang parkir, tukang bakso, dan seterusnya. Si kaya dan si miskin tetap ada. Tapi minimal memiliki pandangan mereka berbeda.
Catatan kecil saya ini bersifat pesan bagi kaum muda : ketika kamu melihat adanya ketidakjujuran mulai berjangkit dimanapun dan kapanpun, sudah selayaknya kaum muda untuk melakukan pergerakkan yang dilandasi hati nurani dan dengan mengembangkan gerakan atas cinta, komitmen, dan konsistensi untuk merubahnya menjadi lebih baik. Ingat alamnya di jaga, percuma system berhasil tapi kondisi lingkungnnya rusakya parah, dan membawa Indonesia ke keadaan bangsa yang lebih sejahtera dan beradab.


Sabtu, 11 Mei 2013

Pemimpin dan Bahasa Perubahan





Basri Amin
Alumnus Leadership for Social Justice, Birmingham, Inggris

Negeri ini makin membutuhkan pemimpin untuk perubahan. Harapan ini kembali muncul di hati saya dalam perjalanan dari Jakarta menuju Hong Kong dan Amsterdam, dengan Cathay Pacific, beberapa waktu lalu. Setelah sekian bulan di tanah air, saya sempatkan berusaha menangkap banyak harapan atas beragam situasi. Kesimpulan sementara saya adalah bahwa perubahan untuk kemajuan di negeri ini meniscayakan suatu “bahasa perubahan”.

Untuk bisa lebih baik, tampaknya bahasa keseharian kita dan bahasa harapan kita, haruslah berubah. Dalam ungkapan Melayu lama, jelas diungkapkan bahwa ‘bahasa menunjukkan bangsa’. Artinya, tata-bahasa kita berhubungan langsung dengan tata-laku kita. Lalu, siapakah yang mestinya pertama kali harus menunjukkan bahasa perubahan itu? Untuk apa bahasa perubahan itu, dan bagaimana perubahan bahasa itu sendiri bisa dibentuk untuk kepentingan perubahan dan perbaikan?

Catatan ini bermaksud sekadar menyegarkan sebuah pandangan lama. Beberapa waktu lalu saya menulis bahwa memimpin perubahan bukan hanya mensyaratkan adanya perubahan struktur, momentum dan sejumlah orang, tapi yang tak kalah seriusnya adalah kultur perubahan, yaitu mengubah cara-cara kita melakukan sesuatu di sekitar kita! Kita patut khawatir jika kelak yang terjadi adalah “hanya pemain yang berganti tapi permainan sama saja”. 

Tantangannya adalah karena kita membutuhkan orang-orang yang berubah sekaligus kondisi yang berubah. Meski yang lebih utama sebenarnya adalah perubahan mentalitas, akumulasi misi hidup dan pembiasaan. Dalam faktanya, yang kerap terjadi adalah mempekerjakan orang yang mau atau yang sudah berubah tapi pada lingkungan yang belum atau tidak (mau) berubah. Mengubah setting adalah tugas pokok pemimpin karena hal itulah yang berfungsi sebagai rumah kerja dan cita-cita yang kondusif untuk bisa terus belajar dan tumbuh, kemudian menyebarkan inovasi dan contoh-contoh pelayanan terbaik di dalam organisasi dan kepada masyarakat.

Pada tahap ini, kompleksitas mulai mengemuka karena menyangkut: interaksi setiap orang dan kepentingan kelompok, status dan materi; dan itu semua akan menghasilkan hirup-pikuk, bahklan klik-klik kelompok dan kepentingan jangka pendek. Karena itu, tabiat pertama dari pemimpin perubahan adalah kapasitas dia dalam berinteraksi (lintas-batas kelompok), karena dari sanalah dia menyerap ”ide” dan ”kasus” lalu memberi respons dan pembiasaan produktif dari dirinya, bukan dengan bahasa janji, gertakan kuasa dan apalagi transaksi ekonomi.

Kebutuhan utama bagi setiap pemimpin perubahan adalah mengukuhkan dasar-dasar moral dan inteleksinya untuk mengelola semua kondisi yang ada. Harapannya, kemenangan dia bukanlah semata sebuah kemenangan jangka pendek, tapi kemenangan atas agenda besar dan keteladanan otentik. Bukan sekadar status tanpa isi, tapi karena visi dan aksi. Kemampuan mengalokasikan waktu yang memadai dalam beradaptasi dan mengelola berbagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berat, tekanan dan ketidakpastian adalah karakter utama pemimpin yang bisa menavigasi arus-arus perubahan (Heifetz & Laurie, HBR, 1998: 181).

Kita butuh (banyak) pemimpin di negeri ini, yang menyebar, yang mengambil peran-peran terobosan dan berani menghadapi dan mengelola kenyataan (kesempatan, masalah, sumberdaya, dst), tapi sekaligus yang terbuka memproses berbagai alternatif terbaik di daerah dan di masing-masing lingkungan kerja yang dipimpinnya. Prinsip kerja ini harus dipegang dan dihayati, sekaligus harus di-evaluasi berkala dan objektif, bukan sekadar basa-basi dan formalitas.

Pemimpin harus mampu meng-aktifkan, membangun dan menguatkan proses pengerjaan perubahan sebagai prioritas, sehingga sebuah organisasi benar-benar menghayati tugas-tugas luhurnya dalam melayani. Proses inilah yang tanpa henti harus diberdayakan, bukan malah dikontrol dan dikhawatirkan dengan penuh kamuflase.

Pemimpin perubahan akan meramu semua bahasa harapan dan optimisme menjadi energi kolektif untuk mencapai sesuatu untuk kepentingan bersama yang berguna jangka panjang. Ia tak pernah takut, menyerah dan menyalahkan, karena ia amat yakin bahwa masalah yang sangat sulit pun pasti bisa dikelola produktif. Ketidakseimbangan dan tensi-tensi tantangan memang selalu hadir di berbagai titik, tapi arah perubahan akan terus dikelola dengan ”tenang” karena di sanalah pencapaian terbaik berada. Di sanalah kapasitas untuk berubah dan membuat perubahan bisa dicapai. Ia harus mampu membentuk bahasa pikiran dan kebijakan yang konsisten dengan tindakan.

Singkatnya, leadership yang kita butuhkan adalah yang kompeten untuk implementasi. Mereka yang berani, lincah dan cermat “mendobrak” dan menggerakkan strategi kerja secara konsisten selalu lebih baik daripada mereka-mereka yang bermental pengikut atau pembeo, pembela status quo, yang serba menyesuaikan, yang mendewakan status dan kemapanan, dan yang selalu merayakan bahasa negatif, bahasa hitam-putih dan bahasa menang-kalah. Setiap terobosan untuk perubahan memang (selalu) membutuhkan mentalitas yang kuat, sebuah persistensi akan sesuatu yang berjangka panjang. ***

Rabu, 01 Mei 2013

PROBLEMA GENERASI MENDATANG



­­­PROBLEMA GENERASI MENDATANG
Dengan survei yang ada banyak temuan akademis yang membuktikan bahwa dimensi keilmuan dan keterampilan sudah semakin lemah dalam membentuk dan membangun manusia seutuhnya. Setelah apa yang kita lakukan dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan pendidikan, hanya bisa menjadi hiasan bagi kehidupan sedangkan generasi sekarang dan akan datang semakin memperoleh tantangan dalam kehidupan. Lemahnya dunia kerja di Indonesia berdasarkan laporan WEF (world economic forum) dalam doing business economic rangkings, peringkat daya saing global, Indonesia untuk periode 2012-2013 berada pada posisi 50 dengan skor 4,4 dari 144 negara.
Sekitar sepuluh tahun terakhir kita di lahirkan dengan adanya berbagai  media massa  serta booming teknologi  yang begitu hebat, lantas siapa yang akan mengelolah perkembangan zaman modern kalau bukan kita sebagai generasi di era informasi ini? Sedangkan kemampuan teknologi seperti dalam bidang computer yang dibutuhkan oleh pasar kerja di Negara maju bisa mencapai nilai sekitar 4,20 dengan klasifikasi keterampilan psikomotorik. Bagaimana dengan generasi saat ini?
Cukup atau tidak, dengan adanya jata pendidikan formal di awali dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dapat menguasai ilmu pengetahuan, technology dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan ilmunya  bisa menghasilkan karakter manusia yang seutuhnya. Hal ini bisa menjadi pegangan hidup seseorang untuk terjun di dunia kerja, terus bagaimana dengan yang mengalami persoalan kompleks berupa malas, kurang inisiatif, kurang percaya diri, kurang pergaulan bila bersamaan dengan kawannya yang hidup dan berkembang pada dunia maju?
Dari jalur birokrasi sampai dalam kehidupan sehari-hari untuk kecintaan keluarga pada dunia kerja yang nampak adalah nepotisme, dengan berpikir subjektif bisa menciptakan kurangnya pemerataan kesempatan kerja sehingga kehilangan kondisi objektivitasnya seperti kemampuan dalam bidang kerja tidak menjadi persoalan, ahli atau tidak, profesinya atau tidak, di paksakan untuk masuk dalam rana kerja yang penting masih ada hubungan keturunan. Kecintaan pada keluarga hal yang wajar, tapi yang akan lahir nepotisme. Sehingga ini bukan saja tidak mendidik akan tetapi bisa menimbulkan masalah dan tidak lagi berprinsip bahwa orang harus di tempatkan sesuai kemampuannya?


Manusia bisa di katakan makhluk  individual, makhluk sosial dan makhluk spiritual bila mengaplikasikan akal pikiran dan kemampuan berinteraksinya dengan mengembangkan kemampuan ­­­­­­tertingginya sebagai makhluk ciptaan tuhan dan manusia juga memiliki organ khusus untuk logika dan imajinasi yaitu brain (otak) dengan jutaan kapasitas agar di manfaatkan dengan baik yang di perkirakan hampir semua orang kapasitas otaknya menganggur sekitar 99% hitungan orang berpengetahuan tinggi. Pakar fisika Albert Enstein “tidak semua bisa dihitung dapat diperhitungkan dan juga tidak semua bisa diperhitungkan dapat dihitung”. Ini menjadi bahan pertimbangan kita seorang fisikawan saja menyatakan bahwa kemampuannya untuk  berhitung masih terbatas pada zamannya albert enstein. Bagaimana pada zaman kita sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan diatas inilah yang menjadi problema generasi mendatang dan masih banyak lagi problema yang belum terungkap yang kita tidak sadari dan tentunya juga yang sering menjadi belenggu bagi mereka yang belum menyadari betapa pentingnya Interpersonal Skills keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain dan Intra-personal Skills keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri  yang mampu mengembangkan produktifitas kerja secara mksimal.***