Minggu, 17 November 2013

rizky djauhari

rizky djauhari










Add caption








rizky djauhari

rizky djauhari

rizky djauhari

rizky djauhari

rizky djauhari






rizky djauhari

rizky djauhari

rizky djauhari

rizky djauhari

rizky djauhari

rizky djauhari

Rabu, 30 Oktober 2013

Kelas perkuliahan VIP



Judul : KELAS PIP


Script Writter : RIZKY DJAUHARI

Sinopsis:
REKTOR Universitas Negeri Gorontalo(UNG) baru saja meresmikan sebuah ruang kelas PIP. Itu lho Kelas yang mewah yang kayak di sinetron-sinetron. Kelas PIP  dibangun atas gagasan komunitas WALKER(komunitas pejalan kaki yang ingin merasakan kenyamanan dunia) yang diprakasai oleh Rizky Walker (salah satu mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di UNG) sebagai ketua WALKER Dua ruang Kelas yang berukuran sama 6 x 8m memiliki fasilitas tanpa dosen, smart board yang menuntun kita belajar, AC, lantai keramik, tv, sound system, makanan dan minuman serta tidak kalah tandingnya tiap pagi selalu ada tabloid dan koran terbaru yang setia menemani.
Seperti pagi-pagi biasanya di depan Kelas PIP dipenuhi mahasiswa yang mengantri untuk menikmati fasilitas Kelas PIP berfasilitas plus. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa ilmu komunikasi. Untuk dapat menikmati Kelas PIP  mahasiswa harus membayar Rp. 3.000/jam untuk 1 orang mahasiswa. Bagi mereka yang ingin menjadi member harus membayar uang kartu sebesar 5000. Mereka yang menjadi member akan memperoleh diskon 5% dan pada akhir bulan akan mendapat door prize voucher photo-photo di studio ilmu komunikasi.
Seperti pagi-pagi biasanya juga kelas PIP ramai…, dan terus bertambah ramai dari hari ke hari. Sehingga membuat kewalahan petugasnya.
Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini pak REKTOR bersama-sama Mahasiswa lain menutup kelas PIP secara sepihak. Tentu saja kejadian ini mengejutkan mahasiswa lainnya, terutama Anak-anak komunikasi. Mereka menuntut kelas PIP kembali dibuka. Tapi Pak REKTOR tetap dengan pendiriannya dengan alasan kelas PIP mengganggu stabilitas mahasiswa. mahasiswa jadi melalaikan kelas-kelas biasa yang dulunya mereka tempati karena mereka seharian mengantri di kelas PIP. Akhirnya setelah memberikan penjelasan panjang lebar kepada Mahasiswa. Akhirnya mereka mengerti dan kelas PIP resmi ditutup!
Sementara itu di sekretariatan Walker, rizky berusaha belajar untuk bisa menggunakan alat elektronik yang ada di secret tersebut yang sama dengan yang ada di kelas PIP, Ternyata rizky udikan alias gaptek. agar tak berkesan katro/norak ia berusaha dengan berbagai cara.
Script:
EXT. DEPAN GERBANG KAMPUS UNG, SIANG
Semangat mahasiswa memasuki kampus.

CUT TO:
EXT. AREA FAK. ILMU SOSIAL, SIANG

Gedung fakultas, tempat parkir, cleaning service yang sibuk dengan tugasnya, seorang mahasiswa berjalan sambil membaca buku.

CUT TO:
EXT. PELATARAN kelas PIP. SIANG
mahasiswa ramai berkumpul di depan sebuah kelas. Hiasan Kertas serta balon warna-warni ikut menyemarakan peresemian kelas PIP. Beberapa mahasiswa membicarakan tentang kelas PIP yang tampak berbisik-bisik.

Pak Rektor sedang memberikan sambutan kepada mahasiswa untuk pembukaan kelas PIP, dengan dihadiri seluruh staf rektorat UNG.
Dengan antusias dan pandangan bingung tampak ekspresi mahasiswa memperhatikan Pak
Rektor,

Pak Rektor
Terima kasih atas kehadiran bapak-bapak dan ibu-ibu dan juga adik mahasiswa yang saya cintai. Hari ini merupakan hari yang paling bersejarah bagi kampus kita. Karena akan ada perubahan besar di sini. Kita akan menjadi bagian dari mahasiswa moderen. Sebentar lagi kita akan dapat Menikmati pelayanan seperti layaknya bintang-bintang kelas satu.

CUT TO:
EXT. PELATARAN KELAS, SIANG
Beberapa mahasiswa yang penarasan untuk mengetahui isi kelas PIP, mereka berusaha melihat celah-celah kaca didekat pintu kelas
Pak REKTOR
Saya sangat bangga dengan ibu-ibua anggota komunitas Walker karena dengan ide yang brilian
Dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mahasiswa.

Rizky
Tersenyum bangga.

PAK  REKTOR
mahasiwa UNG yang saya banggakan saya berharap fasilitas ini dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya Karena mengingat jadwal saya hari ini padat sekali, jadi tanpa berpanjang lebar.Maka kelas PIP resmi saya buka!

CUT TO:
EXT. PELATARAN KELAS, SIANG
Pak Rektor Menggunting pita kelas PIP. Terdengar suara petasan. mahasiswa bertepuk tangan. Beberapa mahasiswa dan staf menyalam Pak Rektor. Rizky berada di antrian paling depan masuk ke dalam kelas PIP.

CUT TO:
INT. RUANG KELAS MEWAH, SIANG
ruang kelas mewah lengkap dengan smart board, AC dan juga music yang bisa menambah semangat belajar. Tampak beberapa fasililitas Tambahan seperti tv, sound system untuk karaokean dan tempat tidur.
Wajah rizky tampak sangat bahagia dan segera melangkah menyusuri ruang kelas itu dengan siulan seperti layaknya orang kaya.

FADE OUT:
EXT. DEPAN kelas PIP, SIANG
PENJAGA
(tegas)
Jangan lupa ya dengan kartu membernya Nanti kalo sudah penuh. Bisa ditukar denganh hadiah yang menarik. Ada hunting dengan crew photography komnuikasi, photo bersama model komunikasi, DLL
Kartu member kelas PIP. Ada kotak-kotak untuk membubuhkan Stempel.

CUT TO:
INT. RUANG KELAS MEWAH, SIANG
mahasiswa yang nggak bisa belajar kalau tidak dengar lagu india.

CUT TO:
INT. RUANG KELAS MEWAH, SIANG
mahasiswi dengan membawa boneka yang sering menemani dia saat tidur, ekkhh akhirnya selama waktunya dalam ruang kelas ketiduran.

CUT TO:
INT. RUANG KELAS MEWAH, SIANG
Rizky  bangkit dari tempat tidur, istrahat karena capek setelah mecoba fasilitas ruang kelas tersebut.

CUT TO:
EXT. PELATARAN KELAS, SIANG
rizky keluar dari kelas PIP melalui antrian. Wajahnya tegang tapi tetap berusaha anggun.

FADE OUT:
EXT. DEPAN KELAS PIP, SIANG
mahasiswa mengantri di kelas PIP.  Mahasiswa yang dianggap sebagai preman kampus mencoba untuk masuk
mahasiswa I
(Galak)
ba pinggir ana mo lewat
Mahasiswa II
(Protes)
Antri donk BRO.

mahasiswa I
(Kesal)
apa ngana punya ini. Napa ngana punya ba’alo. Mahasiswa I tersebut langsung masuk ruang kelas’

CUT TO:
INT. RUANG KELAS, SIANG
Terdengar suara dialog dan musik film india sedih mendayu-dayu Sayup-sayup
Terdengar suara orang menangis. Lantai ruang kelas penuh dengan kertas tissue bekas. Preman menangis tesedu-sedu di tempat tidur sambil menyaksikan film india. Dan juga sambil makan pisang, saking terbawa keadaan tak sadar dia sembarangan membuang kulit pisang. Setelah rizky mau keluar ruangan tiba-tiba terpeleset dengan kulit pisang.
Tapi anehnya rizky tidak sedikitpun marah kepada orang yang membuang kulit pisang tersebut.

FADE OUT:
EXT. PELATARAN KELAS, SIANG
Orang mengantri di depan Kelas PIP. Terdengar Sepatu security yang sedang berjalan. Security Memasang papan pengumuman dan Papan Pengumun bertuliskan
” KELAS DITUTUP UNTUK SELAMA.LAMANYA”.
Tidak lama kemudian Pak Rektor datang Hal ini tentu saja membingungkan mahasiswa. Warga ribut dan hampir tidak terkendali.
PAK  REKTOR
Tenang-tenang!! Setelah saya mengingat, menimbang dan memutuskan akhirnya dengan tekad bulat dan kukuh kelas PIP ditutup.
mahasiswi I
(Ingin tau)
Kenapa Pak?

mahasiswi II
Iya kenapa pak?

mahasiswa

(Serempak)

Kenapa.?

PAK Rektor

Setelah saya mengingat, menimbang dan mengamati, kehadiran kelas PIP menganggu Stabilitas proses perkuliahan mahasiswa. Coba bayangkan gara-gara kalian mengantri Seharian ilmu yang seharusnya kalian dapatkan malah berbalik. Apa kalian tidak takut nanti masa depan kalian tertunda terus menerus?

mahasiswa I

(Resah)

Takut Pak.

mahasiswi II

(Panik)

Adoh ,,astaga naga, mo dapa peto dari orang tua ini.

Pak Rektor
tersenyum.

PAK Rektor

(Berwibawa)

Nah itu tadi contoh kongkrit.

mahasiswa berkomentar Mereka mengangguk-angguk setuju. Lalu bubar.

mahasiswa

(Mengangguk)
Iya bener juga kata pak Rektor

CUT TO:
INT. SEKRET WALKER, SIANG
Diagram kepengurusan WALKER.
rizky  duduk wajahnya menegang pusing. dihadapannya ada meja yang di penuhi alat elektronik diatasnya dan juga sebuah buku panduan untuk setiap alat elektronik tersebut.

CUT TO:
PLAYBACK FAST MOVIE/FLASHBACK
rizky  duduk wajahnya menegang pusing. dihadapannya ada meja yang di penuhi alat elektronik diatasnya dan juga sebuah buku panduan untuk setiap alat elektronik tersebut.
Diagram kepengurusan WALKER
Pak Rektor datang.
Warga ribut dan hampir tidak terkendali.

Orang mengantri di depan kelas PIP.

security yang sedang bejalan. security memasang papan pengumuman, Papan Pengumun bertuliskan

” KELAS DITUTUP UNTUK SELAMA-LAMANYA”.

, saking terbawa keadaan tak sadar dia sembarangan membuang kulit pisang. Setelah rizky mau keluar ruangan tiba-tiba terpeleset dengan kulit pisang.
CUT TO:

INT.RUANG KELAS MEWAH, SIANG

kulit pisang yang membuat rizky terpeleset. Mengakibatkan rizky ke jedot di kaki meja, dan pegaruhnya kertas kecil yang ada di atas meja jatuh sampai menutupi wajah rizky. Lalu ia berusaha untuk duduk dan mengambil kertas itu untuk di baca.

STOP!!
EKH DENGAN TERSIPU MALU. TANPA MERENCANAKAN RUANG KELAS KITA BISA TAHU CARA MENJALANKAN ALAT ELEKTRONIK TERSEBUT KITA BISA PELAJARI LEWAT BUKU PANDUAN MASING-MASING ALAT TERSEBUT
HAHAHAHA !!!!!!!!
THE END

Selasa, 08 Oktober 2013

ANAK DUSUN JUGA BISA NGAMPUS



§  Kampus adalah tempatnya pencucian orang miskin
§  Miskin harta, miskin ilmu dan miskin moral (siWalker)
Ngampusssss.....Siapa yang bilang ngampus harus orang yang berduit?  Pertanyaan ini yang sering muncul untuk temannya ketika si anak dusun  pulang ke kampung halaman. “So mahasiswa situ we, nya sombong orang ada uang” ujar temannya kepadanya, ini menjadi tanda tanya besar untuk kita yang ingin meraih impian. Sekedar meluruskan persepsi ungkapan diatas agar bisa lebih memikirkan apa yang akan kita lakukan kedepan supaya kita bisa melanjutkan keperguruan tinggi, bukan memikirkan apa yang akan menyusahkan kita nanti. Kebanyakan orang lebih memikirkan yang susahnya daripada jalan keluarnya, sehingga bisa berpengaruh dengan adanya kemauan dan bisa membuat lemah daya dorong untuk maju.
Anak dusun? Iya,, Dia anak dusun utara ujung pinggir kali, kali yang menjadi batasan dengan desa tetangga yang terletak di desa sipayo kecamatan paguat kabupaten Pohuwato. Ia dilahirkan dari rahim seorang ibu dengan berstatus URT (urusan rumah tangga) dan ayahnya seorang petani. Ibu URT itu sering di panggil dengan panggilan ma’tei (sapaan akrab) dengan nama lengkap Teti Husain dan petani itu sering di sapa dengan sapaan Ga’u yang bernama lengkap Abd. Gafar Djauhari. Ayah dan Ibu tersebut di karunia dengan delapan (8) anak, laki-laki berjumlah 5 orang dan 2 orang perempuan dan satunya telah meninggal dunia pada usia sekitar 2 tahun , anak pertama bernama Rizal Djauhari (mahasiswa jur. Peternakan di Universitas  Negeri Gorontalo), ke-2 Rizky Djauhari(mahasiswa jur. Ilmu Komunikasi di Universitas Negeri Gorontalo), ke-3 Richat Djauhari (siswa SMA), ke-4 fingky Djauhari (siswa MTS), ke-5 Rahman Djauhari (murid di MI), ke-6 fingkan Djauhari (murid di MI), ke-7 Rahim Djauhari (TK) dan satunya lagi hampir lupa anak pertama dilahirkan dari suami sebelum ayah dari anak dusun tersebut bernama Riyan Rauf.
­ Orang tua dari ke delapan anak tersebut mampu menyekolahkan anaknya dari anak bungsu sampai anak sulungnya dengan tekad yang kuat tanpa memikirkan tanggungan biaya dari kebutuhan primer, sekunder dan tersier ke depannya bagaimana  karena berprinsip pendidikan itu perlu sebagai barometer untuk mencapai impian.
Siapa si Anak Dusun?
Dia si anak kedua dari ibu URT dan Ayah petani tersebut. Rizky Djauhari (DJAUH dimAta deRas dihatI) dengan nama paling panjangnya rizky aditya fernendi sandika erlangga syaputra wijaya kusuma yongma rescucer disfencer walker djauhari adalah salah satu mahasiswa di jurusan Ilmu komunikasi angkatan ke-2 di fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo (UNG), UNG adalah salah satu Universitas terbesar dan satu-satunya campus Negeri di kota Gorontalo.
Berjalannya kegiatan perkuliahan, si anak dusun dan kakaknya yang bernama rizal sempat di hadapi dengan masalah yang bisa menghambat perkuliahan, di pertemukan dengan masalah yang harus ada korban antara anak dusun dan rizal, pengeluaran biaya kuliah begitu menguras kantong dari seorang petani agar  rizal mengikuti PKL (praktek kerja lapangan) dan di susul dengan KKS (kuliah kerja sibermas) yang bisa saja berefek pada anak dusun  untuk pembayaran SPP tiap semester. Dengan waktu yang sempit, anak dusun berusaha untuk mengantisipasi sebab ada angin bahagia sempat masuk ke telinga anak dusun dengan adanya kebijakan Universitas (jika Universitas memiliki dua orang mahasiswa yang bersaudara kandung bisa mengurus pengurusan keringanan biaya SPP,  suara mahasiswa). Dan ternyata tidak sesuai harapan, bahwa pernyataan tersebut berlaku pada kurikulum sebelumnya periode kemarin. Akhirnya dengan suara kecil keluar dari mulut rizalsoal wisuda biar le lambat asal di waktu yang tepat”. Ia sebagai kakak dari si Anak dusun berlaku bijak untuk menunda kegiatan KKS itu semata-mata untuk pemenuhan biaya SPP adiknya.
  Anak dusun yang sering di sapa dengan sapaan si walker. Ia adalah salah satu mahasiswa yang bimbang akan perjalanan hidup untuk berkarir, selalu pesimis, lebih banyak frustasi dari pada aksi, takut gagal tapi ingin sukses dan masih banyak lagi. Disamping ngampus Anak dusun utara atau “walker” sering memikirkan generasi anak-anak dusun sekitar tersebut ke depan dengan satu konsep untuk mementingkan generasi mendatang, dia berupaya bagaimana cara agar bisa tersalurkan apa yang didapatkanya dari bangku kuliah. Tanpa berpikir panjang anak dusun  memutuskan untuk mendirikan kelompok kecil di dusun sekitarnya yang beranggotakan 5 orang dan kelompok kecil itu di putuskan menjadi kelompok yang bernama Walker Community (perkumpulan pejalan kaki yang berarti segalanya berawal dari jalan kaki/dari angka nol untuk Sukses) dengan slogannya “Berawal dari kegagalan berakhir dengan kesuksesan”. Seiring berjalanannya waktu, perecrutan terjadi untuk kelompok walker dengan beranggotakan sekitaran 40 orang, dan sampai saat ini masih dalam proses berkembang dengan satu tujuan untuk menjadi komunitas yang mampu dijadikan sebagai cermin dalam sebuah komunitas di sisi positifnya.
Sifat ilmu yaitu jika di bagikan tidak berkurang bahkan bertambah dan jika tidak dibagikan sia-sia punya ilmu.

Rabu, 15 Mei 2013

Negeri ini butuh pemikir (cendekiawan) orde lama

walker
by rizky djauhari
Orde lama menjadi catatan sejarah yang terpenting bagi saya untuk mencapai perubahan. Berbicara pentingnya sejarah, tentunya kita ingat dengan slogan yang disampaikan Presiden pertama kita yang berbunyi "Jas Merah" yang artinya "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah" Benarkah sejarah bisa diartikan suatu kejadian masa lalu untuk dijadikan pelajaran masa sekarang dan masa yang akan datang? kali ini sedikit membahas sejarah di jaman sang demonstran.
Siapa yang tidak kenal SOE HOK GIE seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. SOE HOK GIE lahir pada 17 Desember 1942. Ia adalah salah seorang putera dari keempat keluarga penulis produktif Soe Lie Piet alias Salam sutrawan, Usia lima tahun adik Arif Budiman ini masuk di bangku sekolah Sin Hwa School, sekolah khusus untuk keturunan Tionghoa. Setelah lulus SD ia meneruskan ke SMP Strada, kemudian ke SMA Kanisius, Jakarta lalu ke Universitas Indonesia Jurusan Sejarah, mahasiswa yang berperawakan kecil tapi bercita-cita besar. Ia juga sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama dengan tulisan-tulisannya yang tajam menggigit dan sering kali sinis itu membuat rasa kemanusiaan setiap pembacanya seperti di robek-robek.
Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969, Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Uniknya ia tak pernah menjadi anggota KAMI, organisasi yang menjadi lokomotif politik angkatan 66. Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan. Kritiknya pada Orde Lama dan Presiden Soekarno digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media massa. Ketika pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie tidak lantas mau mendukung pemerintahan Orde Baru. Gie memilih menyepi ke puncak-puncak gunung bersama teman-temannya.
Gie mencintai gunung dan alam bebas. Puisi-puisinya banyak berkisah tentang kecintaannya terhadap pendakian gunung. Di puncak gunung juga salah satu pendiri Mapala UI ini menghadap penciptanya. 16 Desember 1969, di tengah kabut tebal puncak Gunung Semeru, sehari sebelum ulangtahun Gie ke-27, Gie dan Idhan Lubis meninggal  karena menghirup gas beracun. Teman-teman Gie yang ikut mendaki saat itu adalah : Anton Wiyana, A. Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo.
 Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran, sebuah buku tentang pergolakan pemikiran seorang pemuda, Soe Hok Gie. Dengan detail menunjukkan luasnya minat Gie, mulai dari persoalan sosial politik Indonesia modern, hingga masalah kecil hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Gie adalah seorang anak muda yang dengan setia mencatat perbincangan terbuka dengan dirinya sendiri, membawa kita pada berbagai kontradiksi dalam dirinya, dengan kekuatan bahasa yang mirip dengan saat membaca karya sastra Mochtar Lubis.
Dia banyak menulis kritik yang keras di media massa seperti koran, bahkan kadang dengan menyebut personal (tidak menyamarkan nama). Dia pernah mendapat surat kaleng yang memaki-maki dia “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Gie bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.
Apa yang ditulisnya (baik atau tidak, benar atau salah) adalah apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan oleh seorang pemuda, seorang terpelajar yang mencoba bertindak adil dalam pemikiran maupun perbuatan. Jika ingin memperoleh pengetahuan, gambaran, kesan-kesan mengenai kehidupan para pemuda atau para mahasiswa Indonesia, catatan Soe Hok Gie merupakan perwujudan kenyataan dari kehidupan sebagian dari mereka. Gie adalah sebuah potret pemuda Indonesia pada sebuah masa yang berani mengambil sikap. Kecaman yang dilontarkan Gie dilancarkan atas pemikiran yang jujur, atas dasar itikad baik. Ia tidak selalu benar, tapi selalu jujur.Terlepas dari sisi kontroversialnya yang terlalu banyak mengkritik, tapi enggan untuk bergabung dalam sistem, ada hal yang patut diapresiasi dan diperjuangkan di masa kini dan nanti. Agar apa yang diperjuangkannya dahulu, tidak sia-sia.
Berbahagialah generasi kini yang dapat menimba hikmah dari berbagai bentuk peninggalan maupun penerbitan bahan sejarah di dalam negeri!

John Maxwell, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Beranjak dari biografi Soe Hok Gie menjadi satu pikiran saya bahwa di era reformasi yang penuh carut marut ini kita masih butuh system yang dilakukan iya pada zamanya, karena Sampai kapanpun, sampai reformasi jenis apapun, sampai revolusi sekuat apapun, kesetaraan Sejahtera nya rakyat hanyalah harapan kosong. Memimpin bangsa Lebih utama sebenarnya adalah perubahan mentalitas, akumulasi misi hidup dan pembiasaan, memimpin perubahan bukan hanya mensyaratkan adanya perubahan struktur, momentum dan sejumlah orang, melainkan kultur perubahan (mengubah cara-cara kita melakukan sesuatu di sekitar kita) kondisi yang berubah. Tapi kenyataan yang ada,  orangnya berubah dengan kondisi yang sama bahkan ada juga yang menurun: bahasanya ”pergantian pemain dalam formasi yang sama”. Tugas pokok pemimpin adalah mengubah peraturan, karena hal itulah yang berfungsi sebagai rumah kerja dan cita-cita yang kondusif untuk bisa terus belajar dan tumbuh, kemudian menyebarkan inovasi dan contoh-contoh pelayanan terbaik di dalam organisasi dan kepada masyarakat. 
Manifes berkedok sosialis yang terus di kumandangkan, dan terus-terusan kosong. Tiada. Karena sifat dasar manusia memang kompetitif, dan manusia di besarkan dalam irama seperti itu Sampai kapanpun, akan tetap ada kelas-kelas, miskin-kaya, tinggi-rendah, borjuis dan seterusnya, dan seterusnya. Logis bagi saya semua itu. Dan lagi sejarah berkata sama. Aku tidak berjuang untuk Penyetaraan Kesejahteraan, saya hanya ingin berjuang untuk; “Level of living” kata Soe Hok Gie. Tingkat hidup rakyat, setidaknya tidak lebih rendah dari negara samping. saya tidak permasalahkan dengan apa yang di sebut kaya, dan apa yang disebut miskin. saya hanya permasalahkan atas pandangan sinis & rendahan yg terlukis.Bagi saya bukan kaya atau miskin yang membuatnya buruk, Melainkan anggapan dan cara pandang, itu yang harus diubah. Karena dengan begitu, harmony akan kembali. Level of living biarlah meningkat. Tidak ada lagi (atau setidaknya berkurang) tempah sampah menjadi wadah makanan. Pendidikan yg layak (dalam arti memang bermutu) untuk mereka adik kecil. Tidak ada lagi pandang merendahkan, pada mereka yang bekerja tanpa jas & sepatu mahal, tukang parkir, tukang bakso, dan seterusnya. Si kaya dan si miskin tetap ada. Tapi minimal memiliki pandangan mereka berbeda.
Catatan kecil saya ini bersifat pesan bagi kaum muda : ketika kamu melihat adanya ketidakjujuran mulai berjangkit dimanapun dan kapanpun, sudah selayaknya kaum muda untuk melakukan pergerakkan yang dilandasi hati nurani dan dengan mengembangkan gerakan atas cinta, komitmen, dan konsistensi untuk merubahnya menjadi lebih baik. Ingat alamnya di jaga, percuma system berhasil tapi kondisi lingkungnnya rusakya parah, dan membawa Indonesia ke keadaan bangsa yang lebih sejahtera dan beradab.