Bulan
suci ramadhan merupakan bulan yang paling di tunggu-tunggu oleh umat muslim.
Bulan ramadhan dua kali berturut-turut dengan tahun ini, bertepatan dengan
pembayaran SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) untuk mahasiswa UNG (Universitas
Negeri Gorontalo). Dengan pembayaran SPP menggunakan system online, mempermudah
mahasiswa untuk bisa mudik dan memenuhi kewajibannya untuk membayar SPP di
masing-masing daerah. Dengan sibuk-sibuknya melaksanakan kewajiban berpuasa
sebagai umat muslim, seluruh mahasiswa UNG menyempatkan antrian di Bank untuk
membayar SPP.
Namun,
ada saja masalah yang menghambat dan bisa menunda administrasi pembayaran SPP
dikarenakan gangguan system online yang tidak bisa mengakses, System online
yang bertujuan untuk mempermudah, justru bisa mempersulit mahasiswa. Antrian
panjang di lobby Bank, jika ada gangguan system bisa dua sampai tiga kali balik
ke Bank, dan parahnya ± 200 mahasiswa tidak sempat membayar SPP. Sebagian besar
mahasiswa berpikir bahwa perpanjangan pembayaran SPP sudah membudaya di UNG,
sehingganya masalah ini jadi kejutan tak terduga bagi mahasiswa.
Berbagai
usaha yang dilakukan oleh sekian mahasiswa untuk memohon dibukanya perpanjangan
pembayaran SPP. Namun, pihak lembaga tidak menyetujui permohonan tersebut dan
mahasiswa dianjurkan untuk mengurus cuti karena tidak akan ada perpanjangan
“tegas pihak lembaga UNG”. Masalah SPP ini kedengarannya tidak memnghebohkan
seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat gorontalo, melainkan kehebohan itu
hanya bisa dirasakan dari masing-masing mahasiswa yang tidak sempat membayar
SPP. Padahal masalah ini menyangkut kepentingan generasi penerus bangsa, karena
bisa memperlambat lahirnya akademis.
±
200 mahasiswa masing-masing memiliki alasan, diantaranya belum mempunyai biaya,
gangguan system, bahkan ada daerah yang Bank-nya tidak bisa melayani pembayaran
SPP “ ujar abang kulit hitam” pada rapat pembentukan Front mahasiswa Senin
03/08/2015. Dengan alasan yang ada, mahasiswa berharap bisa dibuka kembali
pengurusan SPP, yang ada di benak mahasiswa perpanjangan ada karena alasannya
jelas. Namun, alasan tersebut tidak dapat menggugah dari pihak lembaga yang
sudah membuat keputusan yang bulat untuk meniadakan perpanjangan di tahun ini
bahkan kemungkinan sampai seterusnya.
Dari
hal ini dapat membuat mahasiswa menjadi frustasi dan hal-hal yang tidak di
inginkan. Hanya bisa berharap dari masalah ini untuk berpikir positif dan bisa mendewasakan
mahasiswa ataupun generasi penerus, semoga dengan kejadian ini tidak akan ada
yang berhenti kuliah dan korban jiwa hanya karena stress yang takut
mengecewakan orang tua. Cukup di semester ini jawabanya adalah CUTI, dan cuti
ini bisa mewakili kegagalan kita untuk keberhasilan yang tertunda.
Harapan
demi harapan dari mahasiswa CUTI untuk pihak lembaga UNG agar dapat
meminimalisir masalah ini agar tidak terjadi di semester mendatang. Misalnya,
dapat memberikan tempat khusus pembayaran SPP dan perbaikan system online untuk
mengakses dan informasi-informasi dari kampus bisa di ketahui langsung jika ada
perubahan dalam system perkuliahan. Pihak Rektorat, fakultas dan Program
Studi/Jurusan dapat memperlihatkan kedekatan bapak/ibu sebagai orang tua dari
mahasiswa di perguruan tinggi, yang bisa menjadi tempat untuk mahasiswa berteduh
membasuh pilu.**
