PROBLEMA
GENERASI MENDATANG
Dengan survei yang ada
banyak temuan akademis yang membuktikan bahwa dimensi keilmuan dan keterampilan
sudah semakin lemah dalam membentuk dan membangun manusia seutuhnya. Setelah
apa yang kita lakukan dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan pendidikan, hanya
bisa menjadi hiasan bagi kehidupan sedangkan generasi sekarang dan akan datang
semakin memperoleh tantangan dalam kehidupan. Lemahnya dunia kerja di Indonesia
berdasarkan laporan WEF (world economic forum) dalam doing business economic rangkings, peringkat daya saing global,
Indonesia untuk periode 2012-2013 berada pada posisi 50 dengan skor 4,4 dari
144 negara.
Sekitar sepuluh tahun
terakhir kita di lahirkan dengan adanya berbagai media massa
serta booming teknologi yang
begitu hebat, lantas siapa yang akan mengelolah perkembangan zaman modern kalau
bukan kita sebagai generasi di era informasi ini? Sedangkan kemampuan teknologi
seperti dalam bidang computer yang dibutuhkan oleh pasar kerja di Negara maju
bisa mencapai nilai sekitar 4,20 dengan klasifikasi keterampilan psikomotorik.
Bagaimana dengan generasi saat ini?
Cukup atau tidak,
dengan adanya jata pendidikan formal di awali dari sekolah dasar hingga
perguruan tinggi dapat menguasai ilmu pengetahuan, technology dan keterampilan
teknis yang berhubungan dengan ilmunya bisa menghasilkan karakter manusia yang
seutuhnya. Hal ini bisa menjadi pegangan hidup seseorang untuk terjun di dunia
kerja, terus bagaimana dengan yang mengalami persoalan kompleks berupa malas,
kurang inisiatif, kurang percaya diri, kurang pergaulan bila bersamaan dengan
kawannya yang hidup dan berkembang pada dunia maju?
Dari jalur birokrasi
sampai dalam kehidupan sehari-hari untuk kecintaan keluarga pada dunia kerja
yang nampak adalah nepotisme, dengan berpikir subjektif bisa menciptakan
kurangnya pemerataan kesempatan kerja sehingga kehilangan kondisi
objektivitasnya seperti kemampuan dalam bidang kerja tidak menjadi persoalan,
ahli atau tidak, profesinya atau tidak, di paksakan untuk masuk dalam rana kerja
yang penting masih ada hubungan keturunan. Kecintaan pada keluarga hal yang
wajar, tapi yang akan lahir nepotisme. Sehingga ini bukan saja tidak mendidik
akan tetapi bisa menimbulkan masalah dan tidak lagi berprinsip bahwa orang
harus di tempatkan sesuai kemampuannya?
Manusia bisa di katakan
makhluk individual, makhluk sosial dan
makhluk spiritual bila mengaplikasikan akal pikiran dan kemampuan
berinteraksinya dengan mengembangkan kemampuan tertingginya sebagai
makhluk ciptaan tuhan dan manusia juga memiliki organ khusus untuk logika dan
imajinasi yaitu brain (otak) dengan jutaan kapasitas agar di manfaatkan dengan
baik yang di perkirakan hampir semua orang kapasitas otaknya menganggur sekitar
99% hitungan orang berpengetahuan tinggi. Pakar fisika Albert Enstein “tidak semua bisa dihitung dapat
diperhitungkan dan juga tidak semua bisa diperhitungkan dapat dihitung”.
Ini menjadi bahan pertimbangan kita seorang fisikawan saja menyatakan bahwa
kemampuannya untuk berhitung masih
terbatas pada zamannya albert enstein. Bagaimana pada zaman kita sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan
diatas inilah yang menjadi problema generasi mendatang dan masih
banyak lagi problema yang belum terungkap yang kita tidak sadari dan tentunya
juga yang sering menjadi belenggu bagi mereka yang belum menyadari betapa pentingnya Interpersonal Skills keterampilan dalam
berhubungan dengan orang lain dan Intra-personal
Skills keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri yang mampu mengembangkan produktifitas kerja
secara mksimal.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar