Alumnus Leadership for Social Justice, Birmingham, Inggris
Negeri ini makin membutuhkan pemimpin untuk perubahan. Harapan ini kembali muncul di hati saya dalam perjalanan dari Jakarta menuju Hong Kong dan Amsterdam, dengan Cathay Pacific, beberapa waktu lalu. Setelah sekian bulan di tanah air, saya sempatkan berusaha menangkap banyak harapan atas beragam situasi. Kesimpulan sementara saya adalah bahwa perubahan untuk kemajuan di negeri ini meniscayakan suatu “bahasa perubahan”.
Untuk bisa lebih baik, tampaknya bahasa keseharian kita dan bahasa harapan kita, haruslah berubah. Dalam ungkapan Melayu lama, jelas diungkapkan bahwa ‘bahasa menunjukkan bangsa’. Artinya, tata-bahasa kita berhubungan langsung dengan tata-laku kita. Lalu, siapakah yang mestinya pertama kali harus menunjukkan bahasa perubahan itu? Untuk apa bahasa perubahan itu, dan bagaimana perubahan bahasa itu sendiri bisa dibentuk untuk kepentingan perubahan dan perbaikan?
Catatan ini bermaksud sekadar menyegarkan sebuah pandangan lama. Beberapa waktu lalu saya menulis bahwa memimpin perubahan bukan hanya mensyaratkan adanya perubahan struktur, momentum dan sejumlah orang, tapi yang tak kalah seriusnya adalah kultur perubahan, yaitu mengubah cara-cara kita melakukan sesuatu di sekitar kita! Kita patut khawatir jika kelak yang terjadi adalah “hanya pemain yang berganti tapi permainan sama saja”.
Tantangannya adalah karena kita membutuhkan orang-orang yang berubah sekaligus kondisi yang berubah. Meski yang lebih utama sebenarnya adalah perubahan mentalitas, akumulasi misi hidup dan pembiasaan. Dalam faktanya, yang kerap terjadi adalah mempekerjakan orang yang mau atau yang sudah berubah tapi pada lingkungan yang belum atau tidak (mau) berubah. Mengubah setting adalah tugas pokok pemimpin karena hal itulah yang berfungsi sebagai rumah kerja dan cita-cita yang kondusif untuk bisa terus belajar dan tumbuh, kemudian menyebarkan inovasi dan contoh-contoh pelayanan terbaik di dalam organisasi dan kepada masyarakat.
Pada tahap ini, kompleksitas mulai mengemuka karena menyangkut: interaksi setiap orang dan kepentingan kelompok, status dan materi; dan itu semua akan menghasilkan hirup-pikuk, bahklan klik-klik kelompok dan kepentingan jangka pendek. Karena itu, tabiat pertama dari pemimpin perubahan adalah kapasitas dia dalam berinteraksi (lintas-batas kelompok), karena dari sanalah dia menyerap ”ide” dan ”kasus” lalu memberi respons dan pembiasaan produktif dari dirinya, bukan dengan bahasa janji, gertakan kuasa dan apalagi transaksi ekonomi.
Kebutuhan utama bagi setiap pemimpin perubahan adalah mengukuhkan dasar-dasar moral dan inteleksinya untuk mengelola semua kondisi yang ada. Harapannya, kemenangan dia bukanlah semata sebuah kemenangan jangka pendek, tapi kemenangan atas agenda besar dan keteladanan otentik. Bukan sekadar status tanpa isi, tapi karena visi dan aksi. Kemampuan mengalokasikan waktu yang memadai dalam beradaptasi dan mengelola berbagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berat, tekanan dan ketidakpastian adalah karakter utama pemimpin yang bisa menavigasi arus-arus perubahan (Heifetz & Laurie, HBR, 1998: 181).
Kita butuh (banyak) pemimpin di negeri ini, yang menyebar, yang mengambil peran-peran terobosan dan berani menghadapi dan mengelola kenyataan (kesempatan, masalah, sumberdaya, dst), tapi sekaligus yang terbuka memproses berbagai alternatif terbaik di daerah dan di masing-masing lingkungan kerja yang dipimpinnya. Prinsip kerja ini harus dipegang dan dihayati, sekaligus harus di-evaluasi berkala dan objektif, bukan sekadar basa-basi dan formalitas.
Pemimpin harus mampu meng-aktifkan, membangun dan menguatkan proses pengerjaan perubahan sebagai prioritas, sehingga sebuah organisasi benar-benar menghayati tugas-tugas luhurnya dalam melayani. Proses inilah yang tanpa henti harus diberdayakan, bukan malah dikontrol dan dikhawatirkan dengan penuh kamuflase.
Pemimpin perubahan akan meramu semua bahasa harapan dan optimisme menjadi energi kolektif untuk mencapai sesuatu untuk kepentingan bersama yang berguna jangka panjang. Ia tak pernah takut, menyerah dan menyalahkan, karena ia amat yakin bahwa masalah yang sangat sulit pun pasti bisa dikelola produktif. Ketidakseimbangan dan tensi-tensi tantangan memang selalu hadir di berbagai titik, tapi arah perubahan akan terus dikelola dengan ”tenang” karena di sanalah pencapaian terbaik berada. Di sanalah kapasitas untuk berubah dan membuat perubahan bisa dicapai. Ia harus mampu membentuk bahasa pikiran dan kebijakan yang konsisten dengan tindakan.
Singkatnya, leadership yang kita butuhkan adalah yang kompeten untuk implementasi. Mereka yang berani, lincah dan cermat “mendobrak” dan menggerakkan strategi kerja secara konsisten selalu lebih baik daripada mereka-mereka yang bermental pengikut atau pembeo, pembela status quo, yang serba menyesuaikan, yang mendewakan status dan kemapanan, dan yang selalu merayakan bahasa negatif, bahasa hitam-putih dan bahasa menang-kalah. Setiap terobosan untuk perubahan memang (selalu) membutuhkan mentalitas yang kuat, sebuah persistensi akan sesuatu yang berjangka panjang. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar