Rabu, 01 Mei 2013

problema generasi mendatang



­­­PROBLEMA GENERASI MENDATANG
Dengan survei yang ada banyak temuan akademis yang membuktikan bahwa dimensi keilmuan dan keterampilan sudah semakin lemah dalam membentuk dan membangun manusia seutuhnya. Setelah apa yang kita lakukan dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan pendidikan, hanya bisa menjadi hiasan bagi kehidupan sedangkan generasi sekarang dan akan datang semakin memperoleh tantangan dalam kehidupan. Lemahnya dunia kerja di Indonesia berdasarkan laporan WEF (world economic forum) dalam doing business economic rangkings, peringkat daya saing global, Indonesia untuk periode 2012-2013 berada pada posisi 50 dengan skor 4,4 dari 144 negara.
Sekitar sepuluh tahun terakhir kita di lahirkan dengan adanya berbagai  media massa  serta booming teknologi  yang begitu hebat, lantas siapa yang akan mengelolah perkembangan zaman modern kalau bukan kita sebagai generasi di era informasi ini? Sedangkan kemampuan teknologi seperti dalam bidang computer yang dibutuhkan oleh pasar kerja di Negara maju bisa mencapai nilai sekitar 4,20 dengan klasifikasi keterampilan psikomotorik. Bagaimana dengan generasi saat ini?
Cukup atau tidak, dengan adanya jata pendidikan formal di awali dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dapat menguasai ilmu pengetahuan, technology dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan ilmunya  bisa menghasilkan karakter manusia yang seutuhnya. Hal ini bisa menjadi pegangan hidup seseorang untuk terjun di dunia kerja, terus bagaimana dengan yang mengalami persoalan kompleks berupa malas, kurang inisiatif, kurang percaya diri, kurang pergaulan bila bersamaan dengan kawannya yang hidup dan berkembang pada dunia maju?
Dari jalur birokrasi sampai dalam kehidupan sehari-hari untuk kecintaan keluarga pada dunia kerja yang nampak adalah nepotisme, dengan berpikir subjektif bisa menciptakan kurangnya pemerataan kesempatan kerja sehingga kehilangan kondisi objektivitasnya seperti kemampuan dalam bidang kerja tidak menjadi persoalan, ahli atau tidak, profesinya atau tidak, di paksakan untuk masuk dalam rana kerja yang penting masih ada hubungan keturunan. Kecintaan pada keluarga hal yang wajar, tapi yang akan lahir nepotisme. Sehingga ini bukan saja tidak mendidik akan tetapi bisa menimbulkan masalah dan tidak lagi berprinsip bahwa orang harus di tempatkan sesuai kemampuannya?


Manusia bisa di katakan makhluk  individual, makhluk sosial dan makhluk spiritual bila mengaplikasikan akal pikiran dan kemampuan berinteraksinya dengan mengembangkan kemampuan ­­­­­­tertingginya sebagai makhluk ciptaan tuhan dan manusia juga memiliki organ khusus untuk logika dan imajinasi yaitu brain (otak) dengan jutaan kapasitas agar di manfaatkan dengan baik yang di perkirakan hampir semua orang kapasitas otaknya menganggur sekitar 99% hitungan orang berpengetahuan tinggi. Pakar fisika Albert Enstein “tidak semua bisa dihitung dapat diperhitungkan dan juga tidak semua bisa diperhitungkan dapat dihitung”. Ini menjadi bahan pertimbangan kita seorang fisikawan saja menyatakan bahwa kemampuannya untuk  berhitung masih terbatas pada zamannya albert enstein. Bagaimana pada zaman kita sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan diatas inilah yang menjadi problema generasi mendatang dan masih banyak lagi problema yang belum terungkap yang kita tidak sadari dan tentunya juga yang sering menjadi belenggu bagi mereka yang belum menyadari betapa pentingnya Interpersonal Skills keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain dan Intra-personal Skills keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri  yang mampu mengembangkan produktifitas kerja secara mksimal.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar