§
Kampus adalah
tempatnya pencucian orang miskin
§
Miskin harta,
miskin ilmu dan miskin moral (siWalker)
Ngampusssss.....Siapa
yang bilang ngampus harus orang yang berduit? Pertanyaan ini yang sering muncul untuk
temannya ketika si anak dusun pulang ke
kampung halaman. “So mahasiswa situ we,
nya sombong orang ada uang” ujar temannya kepadanya, ini menjadi tanda
tanya besar untuk kita yang ingin meraih impian. Sekedar meluruskan persepsi
ungkapan diatas agar bisa lebih memikirkan apa yang akan kita lakukan kedepan
supaya kita bisa melanjutkan keperguruan tinggi, bukan memikirkan apa yang akan
menyusahkan kita nanti. Kebanyakan orang lebih memikirkan yang susahnya
daripada jalan keluarnya, sehingga bisa berpengaruh dengan adanya kemauan dan
bisa membuat lemah daya dorong untuk maju.
Anak dusun? Iya,, Dia anak
dusun utara ujung pinggir kali, kali yang menjadi batasan dengan desa tetangga
yang terletak di desa sipayo kecamatan paguat kabupaten Pohuwato. Ia dilahirkan
dari rahim seorang ibu dengan berstatus
URT (urusan rumah tangga) dan ayahnya seorang petani. Ibu URT itu sering di
panggil dengan panggilan ma’tei (sapaan akrab) dengan nama lengkap Teti Husain
dan petani itu sering di sapa dengan sapaan Ga’u yang bernama lengkap Abd.
Gafar Djauhari. Ayah dan Ibu tersebut di karunia dengan delapan (8) anak,
laki-laki berjumlah 5 orang dan 2 orang perempuan dan satunya telah meninggal
dunia pada usia sekitar 2 tahun , anak pertama bernama Rizal Djauhari
(mahasiswa jur. Peternakan di Universitas
Negeri Gorontalo), ke-2 Rizky Djauhari(mahasiswa jur. Ilmu Komunikasi di
Universitas Negeri Gorontalo), ke-3 Richat Djauhari (siswa SMA), ke-4 fingky
Djauhari (siswa MTS), ke-5 Rahman Djauhari (murid di MI), ke-6 fingkan Djauhari
(murid di MI), ke-7 Rahim Djauhari (TK) dan satunya lagi hampir lupa anak
pertama dilahirkan dari suami sebelum ayah dari anak dusun tersebut bernama
Riyan Rauf.
Orang tua dari ke
delapan anak tersebut mampu menyekolahkan anaknya dari anak bungsu sampai anak
sulungnya dengan tekad yang kuat tanpa memikirkan tanggungan biaya dari
kebutuhan primer, sekunder dan tersier ke depannya bagaimana karena berprinsip pendidikan itu perlu
sebagai barometer untuk mencapai impian.
Siapa si Anak Dusun?
Dia si anak kedua dari
ibu URT dan Ayah petani tersebut. Rizky Djauhari (DJAUH dimAta deRas
dihatI) dengan nama paling panjangnya
rizky aditya fernendi sandika erlangga syaputra wijaya kusuma yongma rescucer
disfencer walker djauhari adalah salah satu mahasiswa di jurusan Ilmu
komunikasi angkatan ke-2 di fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo
(UNG), UNG adalah salah satu Universitas terbesar dan satu-satunya campus
Negeri di kota Gorontalo.
Berjalannya kegiatan
perkuliahan, si anak dusun dan kakaknya yang bernama rizal sempat di hadapi
dengan masalah yang bisa menghambat perkuliahan, di pertemukan dengan masalah
yang harus ada korban antara anak dusun dan rizal, pengeluaran biaya kuliah begitu
menguras kantong dari seorang petani agar rizal mengikuti PKL (praktek kerja lapangan)
dan di susul dengan KKS (kuliah kerja sibermas) yang bisa saja berefek pada
anak dusun untuk pembayaran SPP tiap
semester. Dengan waktu yang sempit, anak dusun berusaha untuk mengantisipasi
sebab ada angin bahagia sempat masuk ke telinga anak dusun dengan adanya kebijakan
Universitas (jika Universitas memiliki dua orang mahasiswa yang bersaudara
kandung bisa mengurus pengurusan keringanan biaya SPP, suara mahasiswa). Dan
ternyata tidak sesuai harapan, bahwa pernyataan tersebut berlaku pada kurikulum
sebelumnya periode kemarin. Akhirnya dengan suara kecil keluar dari mulut rizal ”soal wisuda biar le lambat
asal di waktu yang tepat”. Ia sebagai kakak dari si
Anak dusun berlaku bijak untuk menunda kegiatan KKS itu semata-mata untuk
pemenuhan biaya SPP adiknya.
Anak dusun yang sering di sapa dengan sapaan si walker. Ia
adalah salah satu mahasiswa yang bimbang akan perjalanan hidup untuk berkarir,
selalu pesimis, lebih banyak frustasi dari pada aksi, takut gagal tapi ingin
sukses dan masih banyak lagi. Disamping ngampus Anak dusun utara atau “walker” sering
memikirkan generasi anak-anak dusun sekitar
tersebut ke depan dengan
satu konsep untuk mementingkan generasi mendatang, dia
berupaya bagaimana cara agar bisa tersalurkan apa yang didapatkanya dari bangku
kuliah. Tanpa berpikir panjang
anak dusun memutuskan untuk mendirikan kelompok kecil di dusun sekitarnya yang beranggotakan 5
orang dan kelompok kecil itu di putuskan menjadi kelompok yang bernama Walker
Community (perkumpulan pejalan kaki yang berarti segalanya berawal dari jalan
kaki/dari angka nol untuk Sukses) dengan slogannya “Berawal dari kegagalan berakhir dengan kesuksesan”. Seiring
berjalanannya waktu, perecrutan terjadi untuk kelompok walker dengan beranggotakan
sekitaran 40 orang, dan sampai saat ini masih dalam proses berkembang dengan
satu tujuan untuk menjadi komunitas yang mampu dijadikan sebagai cermin dalam
sebuah komunitas di sisi positifnya.
Sifat ilmu
yaitu jika di bagikan tidak berkurang bahkan bertambah dan jika tidak dibagikan
sia-sia punya ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar